hal 185-191
Penerbitan akademik menghadapi masalah serius. Dahulu, awalnya, penerbit di universitas dibiayai penuh oleh universitas tersebut. Columbia University misalnya, pada 1890 membiayai penerbitannya sendiri. Kini, keadaan tidak sama lagi. Anggaran universitas yang dialokasikan untuk penerbitan buku dan jurnal ilmiah semakin sedikit. Di sisi lain, biaya semakin banyak. Keadaan ini menuntut para penerbit seringkali harus membuat keputusan yang berorientasi pada keuntungan. Penerbit harus menggunakan cara-cara bisnis untuk tetap eksis. Walaupun demikian, hasil akhirnya tetap rugi. Hasilnya adalah manfaat akademis yang tergusur kepentingan bisnis. Sebagai contoh, penerbitan monograph, atau disebut juga risalah atau karangan ilmiah disisihkan oleh penerbitan jurnal. Hal ini dikarenakan jurnal lebih laku di pasaran. Padahal, manfaat akademis dari sebuah karangan ilmiah cukup besar.
Selain itu, penerbit di universitas juga terus dituntut untuk melahirkan sumbangan-sumbangan akademis bagi civitas academia. Inilah yang memperberat tuntutan penerbit di universitas. Dalam sudut pandang administrasi universitas, anggaran untuk kepentingan akademik terbagi dua, yaitu untuk konsumsi, dan produksi. Konsumsi dijalankan oleh perpustakaan kampus. Sedangkan produksi dijalankan oleh penerbit kampus. Pembagian dana inilah yang kemudian membuat penerbit kampus menjadi “terkucilkan”. Karena, masuk akal apabila sektor konsumsi (perpustakaan) diberi prioritas, karena lebih mempunyai nilai tambah yang nyata. Sebagai contoh, apabila penerbit kampus membutuhkan Rp. 10 juta untuk menerbitkan satu judul buku sebanyak 1000 kopi (asumsi biaya cetak 1 buku Rp 10.000), maka dengan jumlah uang yang sama, perpustakaan kampus dapat membeli 200 judul buku baru (asumsi harga satuan Rp 50.000). Jadi, secara kasar jelas terlihat bahwa sektor konsumsi (perpustakaan) memberi nilai tambah yang lebih nyata.
Masalah juga terdapat pada level eksternal, dalam hal ini adalah para ahli dan penerbit dari universitas lain. Mereka dapat menjadi pesaing-pesaing kuat dalam memperebutkan pasar yang memang sudah sedikit.
Selain itu, masalah juga terdapat pada membludaknya cetakan, baik itu buku, karangan ilmiah, maupun jurnal. Hal ini berkaitan dengan sistem yang terdapat dalam universitas itu sendiri. Misalnya, dalam pengangkatan pejabat fakultas. Ukuran kompetensi yang ikut berperan dalam menyaring calon adalah seberapa banyak orang tersebut menghasilkan karangan ilmiah. Semakin produktif seseorang, tentu akan menjaadi nilai tambah tersendiri. Hal ini mendorong pada banyaknya karangan ilmiah yang dipublikasikan. Efeknya adalah, terlalu banyak karangan ilmiah, namun sedikit pembaca / konsumen. Konsumen pun terbatas kalangan akademisi, baik dosen, maupun mahasiswa. Jarang sekali karangan ilmiah mendapat tempat di pasar umum.
Masalah juga terkait dengan banyaknya ahli-ahli, khususnya dalam ilmu-ilmu sosial yang relatif lebih banyak melahirkan akademisi bergelar S2, dan S3.
Semua masalah ini mendorong penerbit kampus lebih selektif dalam memilih bahan yang akan dipublikasikan. Beberapa tema bahkan sudah tidak dipublikasikan, seperti tema-tema literatur, khususnya literatur asing. Idealkah keputusan untuk menolak menerbitkan buku? Dari sudut pandang kepentingan akademis, tentu saja hal ini salah. Tetapi, dari sudut pandang penerbit buku sebagai entitas ekonomi independen, tentu saja hal ini dibenarkan.
Hasil akhir dari benang kusut inilah yang menjadi signifikansi bagi perubahan dari printed publishing menjadi electronic publishing. Penerbitan elektronik diharapkan mampu memberi solusi jangka panjang, karena sistem distribusi yang ditawarkan adalah “print on demand”. Dengan cara ini, penerbit tidak perlu khawatir buku cetakannya tidak laku. Semua civitas academia pun dapat bebas mempublikasikan karangan ilmiah, yang kemudian disimpan dalam bentuk digital, tanpa perlu membuatnya dalam bentuk cetak. Memang, ada sejumlah masalah yang mengikuti, termasuk didalamnya tentang ketiadaan standarisasi software yang digunakan untuk membaca, belum lagi sederet masalah lain terkait dengan distribusi, ketahanan, dan sebagainya. Tetapi, adakah cara lain yang lebih baik untuk menyelamatkan masa depan penerbit kampus?
Reney L Mosal
0905010719
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar