Kamis, 14 Februari 2008

Perjuangan Siti Fadilah Supari

Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI sekarang, membuat langkah berani dalam memperjuangkan transparansi terkait kasus flu burung. Avian Influenza atau akrab disebut flu burung, mulai ganas pada tahun 2005. Anehnya, pada saat itu, vaksin flu burung diborong oleh negara maju, menyisakan negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk berperang tanpa tameng dengan virus tersebut.

Ketika virus sudah menjalar, dan korban mulai berjatuhan di Vietnam, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) mengumpulkan sampel virus dari Vietnam, untuk kemudian diselidiki. Penyelidikan itu menghasilkan bibit virus, dan dari bibit virus itulah dibuat vaksin.

Keanehan dimulai ketika kemudian perusahaan-perusahaan farmasi dunia membuat virus itu, dan kemudian menjualnya ke seluruh dunia. WHO memprakarsai ini dengan menyuruh seluruh negara yang terdapat virus Avian untuk mengirim spesimennya. Spesimen ini, pada akhirnya dimonopoli WHO, dan selanjutnya digunakan untuk kepentingan ekonomi.

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika pada 27 Mei 2006, The Strait Times Singapura mengeluarkan artikel bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data diagnosis virus H5NI ini di WHO CC. Data ini, tersimpan di Los Alamos National Laboratory, New Mexico. Di tempat yang sama AS membuat bom atom yang digunakan untuk membom Hiroshima.

Siti Fadilah menolak. Ia kemudian memperjuangkan keterbukaan informasi tersebut ke WHO. Usahanya kemudian berhasil. Los Alamos bersedia mempublikasikan data itu. Media dan ilmuwan kemudian memuji Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI




"For the sake of basic human interest, the Indonesian government declares that genomic data on bird-flu viruses can be accessed by anyone". With those words, spoken on August 3rd, Siti Fadilah Supari started a revolution that could yet save the world from the ravages of a pandemic disease. That is because Indonesia's health minister has chosen a weapon that may prove more useful than today's best vaccines in tackling such emerging threats as avian flu : transparency.

-Economist .com

Tidak ada komentar: